Belajar Melepaskan: Ketika Rasa Suka Justru Membuatku Tersakiti
Kadang kita jatuh hati pada seseorang yang kita kira bisa membawa kebahagiaan.
Kita mengira dia akan jadi sosok yang hangat, lucu, dan bikin hari-hari terasa lebih ringan.
Tapi ternyata… rasa suka juga bisa bikin hati hancur pelan-pelan, tanpa kita sadari.
Aku pernah suka sama seorang cowok.
Suka yang sederhana, tapi tulus.
Aku nggak minta dia balas perasaan yang sama—aku cuma ingin dihargai sebagai manusia.
Tapi yang aku terima malah sebaliknya.
Suatu hari, dia ngomong sesuatu yang sampai sekarang masih keingat jelas di kepala dan bikin hati aku ngilu:
> “Najis ๐ถ, sia weh jeung si eta, geleh gob*.”**
Waktu aku dengar itu, aku cuma diam.
Bukan karena nggak bisa marah, tapi karena kata-kata itu lebih sakit dari yang bisa aku jelasin.
Aku merasa direndahkan, dihinakan, seolah-olah aku nggak punya nilai apa-apa.
Yang lebih nyakitin?
Aku suka sama orang yang bahkan nggak bisa ngomong baik, apalagi ngerti perasaan orang.
Dan di momen itu aku sadar…
Aku harus uncrush. Sekarang juga.
Uncrush bukan karena aku benci dia,
tapi karena aku sayang sama diri sendiri.
Aku nggak boleh terus-terusan begini:
Menyukai seseorang yang anggapanku rendah.
Menantikan perhatian dari orang yang bahkan nggak memperlakukan aku sebagai manusia.
Membiarkan luka baru muncul dari mulut seseorang yang nggak tahu cara menghargai.
Jadi aku mulai pelan-pelan:
✨ Menjauh, bukan lari.
Aku cuma memutuskan untuk tidak lagi mengorbankan hatiku untuk seseorang yang nggak peduli.
✨ Mengingat luka, bukan memaafkan kata kasar itu.
Bukan untuk dendam, tapi agar aku ingat
kenapa aku harus berhenti.
✨ Belajar membangun ulang kepercayaan diri.
Karena kata-katanya sempat bikin aku lupa bahwa aku berharga.
✨ Meyakinkan diri bahwa aku pantas dicintai dengan lembut.
Bukan dengan cacian.
Bukan dengan meremehkan.
Dan semakin aku berjalan, aku makin sadar:
Lebih baik aku sendiri daripada bersama seseorang yang membuat aku merasa kecil.
Hari ini aku menulis ini sebagai pengingat:
bahwa melepaskan bukan bentuk kelemahan.
Justru ini keberanian.
Keberanian untuk menjaga hati sendiri ketika orang yang kita suka malah menghancurkannya.
Aku belajar mencintai diriku lagi.
Perlahan, tapi pasti.
Dan suatu hari nanti, aku yakin akan menemukan seseorang
yang tidak hanya kujadikan tempat singgah,
tapi juga tempat pulang.
Untuk sekarang…
aku cukup bangga karena aku berani berkata:
“Aku memilih diriku.”
Komentar
Posting Komentar