Belajar Sembuh dari Kata-Kata yang Melukai

 Ada yang bilang, luka paling dalam bukan berasal dari pukulan, tapi dari kata-kata.

Sekarang aku paham maksudnya.


Kata-kata yang dia ucapkan itu sederhana… tapi tajam.

Kasar.

Nggak berperasaan.


Dan yang paling menyakitkan adalah: itu datang dari orang yang sempat aku suka.


Kadang aku masih mikir,

“Apa salah aku?”

“Apa aku kurang apa?”

“Kenapa harus aku yang dimaki kayak gitu?”


Tapi makin ke sini aku sadar…

Nggak ada satu pun alasan yang bisa membenarkan seseorang ngomong sekejam itu.

Nggak peduli aku salah atau nggak, aku nggak layak dipanggil najis, gob*, atau dilecehkan kayak begitu.**


Aku mulai belajar bahwa penyembuhan itu bukan tentang pura-pura lupa, tapi tentang menerima kenyataan tanpa nge-blame diri sendiri.


Aku mulai pelan-pelan bangkit.

Gimana caranya?


1. Aku berhenti nyalahin diri sendiri


Kadang kita mikir kalau kita pantas diperlakukan buruk.

Padahal nggak.

Kita cuma ketemu orang yang salah.


2. Aku jaga jarak dari dia


Nggak perlu blokir kalau kamu belum siap.

Tapi kurangi akses dia ke hidupmu.

Energi negatif itu menular.


3. Aku belajar menghargai diri sendiri lagi


Self-worth ku sempet jatuh.

Tapi aku sedang bangun lagi perlahan.

Karena aku sadar: aku pantas disayangi, bukan disakiti.


4. Aku fokus ke orang-orang yang beneran peduli


Teman, keluarga, atau siapapun yang nggak pernah merendahkan aku—mereka yang layak aku jaga.


5. Aku mulai belajar melepaskan ekspektasi tentang dia


Dulu aku berharap dia berubah.

Sekarang aku cuma berharap aku sembuh.


Perjalanan ini nggak instan.

Masih ada hari-hari di mana aku ngerasa sedih, kecewa, atau marah.

Tapi itu wajar.


Yang penting, aku tetap melangkah.

Walaupun pelan, aku tetap maju.


Aku percaya satu hal:


Yang menyakitimu bukan jodohmu.

Yang merendahkanmu bukan takdirmu.

Yang bikin kamu menangis bukan masa depanmu.


Ada seseorang di luar sana yang bakal melihat kamu sebagai sesuatu yang berharga.

Dan sampai dia datang, aku akan terus memperbaiki diri.


Hari ini aku berproses.

Dan itu cukup

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Sahabatku, Sekar — Terima Kasih Sudah Datang di Hidupku 💖

Buat Malay, yang Sekarang Udah Asing Lagi

Teman Virtualku di Roblox — Terima Kasih Teh Rara 🎮💗