La Tomatina: Ketika Sebuah Kota di Spanyol Bertarung Menggunakan Tomat

 

Kalau kamu mengira festival unik cuma ada di Jepang atau Bali, mungkin kamu perlu tahu tentang La Tomatina, sebuah tradisi dari kota kecil bernama Buñol di Spanyol. Setiap tahun, ribuan orang dari seluruh dunia datang hanya untuk melakukan satu hal absurd: melempari satu sama lain dengan tomat sampai seluruh kota berubah jadi lautan merah.


Tradisi ini awalnya tidak memiliki makna sakral atau simbol tertentu—justru berawal dari kejadian yang tidak sengaja pada tahun 1945. Beberapa pemuda yang sedang menonton parade merasa bosan, lalu memutuskan mengambil tomat dari pasar dan mulai melemparkannya ke orang-orang. Tidak ada tujuan khusus, hanya spontanitas dan keisengan khas anak muda. Tapi dari situ, sebuah tradisi besar lahir.


Pemerintah kota Buñol sempat melarang festival ini karena dianggap tidak berguna dan mengganggu ketertiban. Namun, warga tetap melakukannya secara ilegal setiap tahun. Setelah semakin banyak orang datang dan tradisi semakin terkenal, pemerintah akhirnya mengesahkan festival tersebut pada tahun 1957. Bahkan, pada tahun yang sama diadakan aksi demonstrasi lucu: warga membawa peti mati berisi tomat sebagai bentuk protes atas pelarangan festival.


Hari pelaksanaan La Tomatina selalu jatuh pada hari Rabu terakhir bulan Agustus. Tidak sembarangan, festival ini memiliki aturan unik: sebelum pelemparan dimulai, akan ada acara bernama Palo Jabón, yaitu seseorang harus memanjat tiang licin yang dilumuri sabun untuk mengambil potongan ham yang tergantung di puncaknya. Baru setelah itu, truk-truk besar datang membawa lebih dari 120 ton tomat—iya, ton, bukan kilo.


Saat festival dimulai, kota berubah menjadi zona perang merah. Tidak ada musuh, tidak ada strategi. Semua orang setara, basah, lengket, dan berkeringat. Yang menarik, aturan festival mewajibkan peserta menghancurkan tomat sebelum melemparnya, supaya tidak mencederai orang lain. Jadi, meskipun kacau, ada etika di balik kekacauan itu.


Setelah satu jam, festival selesai. Tidak ada perpanjangan waktu, tidak ada ronde tambahan. Penduduk dan petugas pemadam kebakaran langsung membersihkan jalan dengan air, sementara para peserta biasanya mandi di sungai atau menggunakan selang air dari warga. Anehnya, kota Buñol justru tampak lebih bersih setelah festival, karena keasaman tomat membantu membersihkan jalan. Bisa dibilang, itu seperti chaos cleaning system.


Walaupun terdengar gila, La Tomatina bukan sekadar festival lempar tomat. Ini adalah perayaan kebebasan, spontanitas, dan kegembiraan. Festival ini menunjukkan bahwa budaya tidak selalu harus serius atau sakral. Kadang, hal-hal tidak masuk akal yang dilakukan bersama dalam komunitas bisa menjadi identitas, memori, dan warisan budaya.


Festival ini akhirnya menjadi sangat terkenal hingga diadopsi di negara lain seperti India, Australia, Korea Selatan, bahkan Amerika. Namun tetap saja, versi asli di Spanyol memiliki atmosfer paling hidup dan paling “gila”.


La Tomatina mungkin bukan festival paling anggun atau paling bermakna secara spiritual, tetapi ia adalah salah satu contoh bagaimana manusia menciptakan tradisi dari sesuatu yang tidak terencana—dan menjadikannya bagian dari kebudayaan global.

Sumber:

Spain Official Tourism Board

BBC Travel: Inside La Tomatina

National Geographic: Cultural Festivals of Spain

The Guardian Archive (Interview with Buñol Mayor, 2018)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Sahabatku, Sekar — Terima Kasih Sudah Datang di Hidupku 💖

Buat Malay, yang Sekarang Udah Asing Lagi

Teman Virtualku di Roblox — Terima Kasih Teh Rara 🎮💗