Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2025

jumat dar der dor

 Halo guys! Jadi sebelum aku mulai cerita, aku kasih tahu dulu ya kalau di sini aku pakai nama samaran biar lebih gampang dan murah aja istilahnya 😆. Jadi tokohnya aku sebut pakai warna: Aku = Putih Crush aku = Biru Cewek yang suka sama Biru = Ungu  Temen cowok yang nolongin aku keluar = Coklat Nah, lanjut ke ceritanya… Hari Jumat kemarin bener-bener jadi hari penuh deg-degan buat aku (Putih). Setelah habis disuntik dan diambil darah, aku masuk ke kelas dan duduk di depan, tepatnya di meja guru. Awalnya aku santai aja sambil sarapan, tapi tiba-tiba Biru — orang yang aku suka — datang. Dengan wajah santai tanpa rasa bersalah, dia langsung duduk di depan aku. Sumpah rasanya kayak “Ya Allah, kok bisa sih?!” Deg-degannya nggak ketahan. Semua orang di kelas langsung kaget. Cowok-cowok diem melongo, kayak nge-freeze, sedangkan cewek-cewek mulai bisik-bisik. Termasuk Ungu, cewek yang juga suka sama Biru. Dia keliatan cemburu banget, dan aku langsung jadi bahan gibah. Karena panik di...

lebih nyaman diam-diam

 sejak kejadian itu, aku berubah. aku mulai menyimpan perasaan rapat-rapat. bukan karena aku nggak bisa suka lagi, tapi karena aku takut. takut diabaikan, takut dihina, takut dianggap ganggu hubungan orang lagi. aku jadi lebih nyaman mengagumi seseorang dari jauh. melihat senyumnya, mendengar suaranya, lalu menyimpan semuanya sendiri. aku mulai belajar bahwa nggak semua rasa harus diungkapkan. nggak semua perhatian harus ditunjukkan. dan nggak semua rasa suka harus dijelaskan. kadang, cukup aku yang tahu. cukup aku yang merasa. cukup aku yang menyayangi... diam-diam. mengagumi tanpa berharap, menyukai tanpa mengganggu, mendoakan tanpa diketahui. karena ternyata, diam-diam pun bisa setulus itu. dan  aku nyaman di sana.

aku yang tertarik, dia yang belum selesai

 aku pernah tertarik pada seseorang. nggak bisa dibilang cinta, tapi juga bukan sekadar kagum biasa. ada rasa yang muncul setiap kali dia ada. dan akhirnya aku mutusin buat jujur, buat bilang langsung ke dia. aku pikir, setelah aku ungkapin, semuanya bakal lebih ringan. tapi ternyata... dia belum selesai. belum selesai sama orang lamanya. dan lebih parahnya lagi... orang lamanya itu sekelas denganku. setiap hari kami duduk di ruangan yang sama, pura-pura nggak ada apa-apa. padahal ada. aku jadi sasaran sindiran, tiap kata-kata tajam itu keluar dari mulutnya. aku diserang tanpa alasan yang adil. aku cuma tertarik, aku nggak pernah berniat merusak. iya, dia memang cantik. penampilannya selalu menarik perhatian. tapi kelakuannya... itu yang bikin banyak orang mulai jaga jarak. terlalu tajam, terlalu penuh ego, terlalu mudah menghakimi. aku nggak minta untuk diterima. aku cuma pengin dimengerti, bahwa perasaan itu datang tanpa bisa dikontrol. dan aku udah cukup kuat untuk mengakuinya. ...

agustus dan hal-hal yang tidak kupinta

 bulan ini agustus. seharusnya aku senang, karena 25 hari lagi usiaku genap 15 tahun. tapi entah kenapa, agustus malah terasa berat sejak awal. aku berharap bulan kelahiranku membawa hal-hal baik. aku berharap bisa merasa tenang, minimal bahagia sedikit saja. tapi awal bulan ini sudah penuh tragedi. hal-hal yang tak pernah kupikirkan datang begitu saja, menyakitkan tanpa permisi. masalah pun seperti antre—satu datang, yang lain menyusul. aku cuma anak biasa yang ingin merayakan umur dengan senyuman. tapi agustus malah menyambutku dengan luka yang diam-diam mengikis hati. entah aku harus berharap apa lagi. tapi aku masih diam di sini, menunggu keajaiban kecil. siapa tahu, sebelum tanggal 29 datang, semesta mau se dikit berpihak.

hanya bisa mengagumi, karena kita tak sama

 aku pernah suka seseorang. bukan, bukan sekadar suka seperti saat kita bilang makanan itu enak atau langit sore itu indah. ini lebih dalam. lebih diam-diam. lebih menyakitkan. dan sayangnya... dia berbeda keyakinan denganku. awalnya aku tak sadar, atau mungkin pura-pura tak peduli. yang kutahu, setiap kali dia tersenyum, dunia rasanya lebih tenang. setiap kali dia bicara, suaranya jadi lagu paling lembut yang pernah kudengar. dia tidak sempurna, tapi caranya memperlakukan orang lain, cara dia tertawa dengan tulus, cara dia memperhatikan hal-hal kecil... membuatku jatuh—pelan tapi pasti. kita tak pernah benar-benar dekat. tapi cukup sering bertemu untuk membuatku mengenalnya, cukup sering untuk membuatku berharap. aku tahu, dalam diamku ada rasa yang tumbuh, dan dalam setiap tatapan ke arahnya, ada doa-doa yang kutelan sendiri. tapi kenyataan tak pernah mau berkompromi. kami berbeda. terlalu berbeda. agama, sesuatu yang bukan sekadar identitas. bukan pula sekadar label di ktp. ia a...